Kamis, 2008 September 11

Umum

FAL YAKUULU KAULAN SYADIDAN

Dedi “abah”Idris

Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan alat untuk berkomunikasi karena komunikasi dalam pergaulan merupakan kunci. Alat yang paling ampuh dalam komunikasi tersebut adalah bahasa. Dalam komunikasi langsung atau tidak langsung tetap memerlukan bahasa. Pada era globalisasi ini, seseorang atau suatu bangsa akan mampu bergaul secara internasional jika memiliki kemampuan dan keterampilan berbahasa internasional. Kita ambil contoh, seseorang yang hanya memiliki kemampuan berbahasa lokal maka pergaulannya pun hanya bersifat lokal. Dia akan sulit bergaul secara nasional bahan tidak akan mampu. Dia hanya akan mampu bergaul dengan orang-orang yang kemampuan berbahasanya sama dengan dia. Seseorang yang hanya menguasai bahasa Indonesia, akan sulit bergaul secara internasional karena pergaulan internasional menggunakan bahasa Inggris. Dia hanya akan mampu berkomunikasi dengan orang yang sama – menguasai bahasa Indonesia. Dengan demikian, betapa pentingnya penguasaan berbahasa.

Karena pentingnya bahasa dalam pergaulan, tidak salah bila Tuhan menggariskan dalam firman-Nya Wal yakuulu kaulan syadiidan, ”dan berbicaralah dengan bahasa yang baik dan benar”. Hal ini dipertegas lagi oleh hadis nabi fal yakuulu kaulan syadiidan ”maka berbicaralah dengan bahasa yang baik dan benar”. Firman Tuhan dan hadis nabi tersebut menyiratkan bahwa dalam pergaulan sebagai makhluk sosial tidak sekedar penguasaan bahasa tetapi yang dimaksud adalah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Bahasa apa pun yang digunakan, tetap harus bahasa yang baik dan benar.

Bila kita telaah kebenaran kedua keterangan di atas, ternyata benar bahwa baik- buruknya bahasa yang digunakan akan menentukan kesuksesan pergaulan. Seseorang yang memiliki niat yang baik, karena menyampaikannya dengan bahasa yang kurang atau tidak baik akan menjadi jelek. Orang bukannya mau menerima niat baik kita, malahan tersinggung dengan bahasa yang kita gunakan. Dengan bahasa yang tidak baik akan menimbulkan perselisihan bahkan pertengkaran dan perpecahan. Di sinilah perlunya penguasaan bahasa yang baik dan benar.

Bahasa yang baik dan benar bukan hanya sesuai dengan kaidah bahasa melainkan sesuai pula dengan kaidah sosial dan tujuan berbahasa. Ketika kita bergaul di rantau orang, bahasa yang kita gunakan harus disesuaikan dengan kaidah sosial masyarakat tempat kita merantau. Orang Medan yang ada di tatar Pasundan, tentu saja dalam pergaulannya harus memperhatikan kaidah sosial masyarakat Pasundan atau sebaliknya. Selain itu perhatikan pula siapa yang diajak bergaul. Bahasa yang digunakan ketika kita bergaul dengan orang yang lebih tinggi, baik usia maupun jabatan, harus memperhatikan etika. Tidak baik jika bahasa yang kita gunakan disamaratakan terhadap semua orang.

Selain itu, kebaikan berbahasa ditunjang oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut sebagai berikut.

1. Kaidah bahasa. Kaidah bahasa atau tata bahasa ikut berperan dalam menentukan keberhasilan pergaulan karena kaidah bahasa ikut serta menentukan kejelasan makna bahasa yang digunakan. Semakin baik tata bahasa yang digunakan seseorang maka akan semakin mudah orang memahami maksud pembicara. Bahasa yang ambiguitif akan mempersulit seseorang memahami maksud pembicara. Keambiguan bahasa seseorang ditentukan oleh kecermatan penggunaan tata bahasa.

2. Diksi.Diksi atau pilihan kata ikut menentukan sopan dan jelasnya berbahasa seseorang. Semakin tepat diksi yag digunakan semakin sopan pula berbahasa seseorang. Semakin umum diksi yang digunakan seseorang, semakin sulit bahasa seseorang dipahami orang lain. Kita ambil contoh dalam suatu kejadian dalam ilustrasi berikut: Seseorang mengajak temannya menengok teman lainnya yang sedng sakit. Dia menggunakan diksi seperti berikut:

Karena teman kita sakit, mari kita menontonnya sekarang.

Tentu saja kalimat kita akan menimbulkan kekagetan pada teman yang diajak bicara. Kekagetan itu muncul karena penggunaan kata menonton. Diksi ini tidak tepat digunakan untuk melihat orang sakit. Seharusnya kita menggunakan kata menengok.

3. Intonasi dan tanda baca. Dalam bahasa lisan, intonasi memegang peranan penting untuk menentukan kejelasan maksud pembicara sedangkan dalam bahasa tulis, intonasi ditentukan oleh tanda baca. Intonasi dan penggunaan tanda baca yang tepat memudahkan orang yang diajak bicara memahami maksud yang kita ungkapkan. Perubahan intonasi atau penggunaan tanda baca akan mengubah makna bahasa yang digunakan. Misalnya.

Kucing/makan tikus/mati.

Kucing makan/tikus mati.

Kucing/ makan/ tikus mati.

Kucing/makan tikus mati.

Keempat kalimat di atas jelas memiliki makna yang berbeda.

4. Isi pembicaraan. Kebaikan berbahasa seseorang sangat didukung pula oleh isi pembicaraan. Sebaik apa pun bahasa yang kita gunakan, bila isi pembicaraannya tidak sopan, tidak bermanfaat, tidak mendidik, tidak bertujuan, maka bahasa yang kita gunakan tergolong ke dalam bahasa yang tidak baik. Hal ini pun akan menentukan tumbuh tidaknya simpati orang yang diajak bicara terhadap pembicara.

Berdasarkan urian di atas dapat disimpulkan bahwa pergaulan yang baik memerlukan penguasaan bahasa yang baik. Semakin baik bahasa yang digunakan seseorang maka komunikasinya pun semakin baik sehingga menghasilkan pergaulan sosial yang baik pula. Karena itu, mari kita mulai mengaplikasikan firman Tuhan dan hadis nabi di atas demi terciptanya keindahan pergaulan dan perdamaian.

Senin, 2008 Agustus 18

Pembelajaran

MARI BERBAHASA INDONESIA DENGAN BAIK DAN BENAR

Dedi”abah”Idris

Sebelum ke inti permasalahan, penulis bicarakan dulu permasalahan judul tulisan ini. Mari Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar atau Mari Berbahasa Indonesia yang Bak dan Benar? Penulis tidak akan membahas mana yang benar dan mana yang salah sebab keduanya bisa digunakan, bergantung pada konteks dan maksud pemakainya. Yang jelas, bila kita ingin menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, kita mesti menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jadi? Ya, silakan pembaca simpulkan sendiri pengertian istilah bahasa Indonesia yang baik dan benar juga istilah bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Kembali ke permasalahan pokok, untuk membimbing pembaca supaya menggunakan kedua istilah di atas, penulis kemukakan beberapa kata, istilah, frase, struktur kalimat, dan singkatan yang dapat menunjang kebaikan dan kebenaran berbahasa. Tulisan ini penulis sajikan dalam beberapa bagian. Anggap saja tulisan ini sebagai bagian pertama.

  1. Kata Baku dan Tidak Baku

Nomor

Tidak Baku

Nomor

Baku

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

28

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

HUT ke 21

abad ke xxi

abis

adan/adzan

akhli

al qur’an

analisa

antene

apotik

azasi/azazi

basar

bathin

baud

bedug

bhakti

birahi

bis kota

bodo

boulevar/bulevaar

bomper/bemper

cacad/cecat

cicak

ceritera

cidera

conto

cuman

citera

cilaka

cabe

banyak cingcong

dahsat

da’i

daptar

da’wah

debet

deskriminasi

deterjen

dhuhur

dzikir/dikir

dirijen

efektifitas

efektip

eko system

ekpor/eksport/expor

ekstrim

elip

elit

emosionil

enersi/enerji

erobik

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

HUT ke-21

abad xxi

habis

azan

ahli

alquran

analisis

antena

apotek

asasi

bazar

batin

baut

beduk

bakti

berahi

bus kota

bodoh

bulevar

bumper

cacat

cecak

cerita

cedera

contoh

cuma

citra

celaka

cabai

banyak cincong

dhsyat

dai

daftar

dakwah

debit

diskriminasi

detergen

lohor

zikir

dirigen

efektivitas

efektif

ekosistem

ekspor

ekstrem

elips

elite

emosional

energi

aerobik

  1. Frase Baku dan Tidak Baku

Nomor

Tidak Baku

Nomor

Baku

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

28

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

pulau Bali

selat Sunda

danau Toba

sungai Musi

gunung Galunggung

tanjung Priok

teluk Jakarta

pegunungan Menoreh

Bahasa Jawa

Suku Sunda

Hari Lebaran

ibu Guru

abah Dedi

Kacang Bogor

Duren Montong

Lele Dumbo

Pisang Ambon

hukum dalton

dalil pitagoras

umatku

rahmatnya

Rumahnya di jalan Diponegoro.

Apakah nama Jalan ini?

Ia bergelar sarjana ekonomi.

Siapakah nama Kepala Sekolahnya?

Selamat malam, pak!

Silahkan duduk, nak!

Sifatnya Ke Belanda-Belandaan.

Undang-undang Dasar 1945

Apa kata Dokter yang memeriksa?

Perut saya sakit, dokter!

dr. Husni sedang pergi.

Siapakah nama saudara?

Berapa jumlah Saudaramu?

Crown Hotel

Yenti Salon

Dedi Group

di waktu lalu

di masa mendatang

pada lemari...

pada tasku ada...

seiring SK Menteri...

sesuai falsapah bangsa

saat ini...

Minggu lalu...

dalam masayarakat Sunda...

pada rapat kemarin menetapkan...

Dhirgahayu HUT Kemerdekaan RI

Persib dapat memenangkan pertandingan

... tidak masuk dikarenakan ...

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

Pulau Bali

Selat Sunda

Danau Toba

Sungai Musi

Gunung Galunggung

Tanjung Priok

Teluk Jakarta

Pegunungan Manoreh

bahasa Jawa

suku Sunda

hari Lebaran

Ibu Guru

Abah Dedi

kacang bogor

duren montong

lele dumbo

pisang ambon

hukum Dalton

dalil Pitagoras

umat-Ku

rahmat-Nya

Rumahnya di Jalan Diponegoro.

Apakah nama jalan ini?

Ia bergelar Sarjana Ekonomi.

Siapakah nama kepala sekolahnya?

Selamat malam, Pak!

Silakan duduk, Nak!

Sifatnya kebelanda-belandaan.

Undang-Undang Dasar 1945

Apakah kata dokter yang memeriksa?

Perut saya sakit, Dokter!

Dokter Husni sedang pergi.

Siapakah nama Saudara?

Berapakah jumlah saudaramu?

Hotel Crown

Salon Yenti

Grup Dedi

pada waktu yang lalu

pada masa yang akan dating

di lemari...

di tasku ada...

seiring dengan SK Menteri...

sesuai dengan falsafah bangsa

pada saat ini

Minggu yang lalu

masyarakat Sunda...

rapat kemarin menetapkan...

Dirgahayu RI

Persib menang dalam pertandingan

...tidak masuk karena...

Na, pembaca! Pertemuan kita kali ini cukup sekian. Kita pasti bertemu lagi pada sesi selanjutnya. Selamat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar kita bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Gampang, kan?

Rabu, 2008 Agustus 13

Pembelajaran

PANDUAN MENGHADAPI UN

Pokoknya si ”Abah”

Terlepas dari pro dan kontra, Ujian Nasional tetap menjadi ssatu rangkaian dari proses pembelajaran yang paling menakutkan bagi peserta didik. Pro dan kontra terus berlanjut, Ujian Nasional pun terus berjalan sesuai dengan perencanaan matang dari pemerintah via Departemen Pendidikan Nasional. Bila dalam keseharian di sekolah, peserta didik menjadikan mata-mata pelajaran eksak sebagai momok, sementara pada langkah terakhir untuk menyelesaikan pendidikan adalah Ujian Nasional. Itulah realita yang ada. Realita yang tidak bisa ditolak oleh pihak penyelenggara pendidikan dan peserta didik. Memang banyak keuntungan dan kerugian dengan adanya Ujian Nasional, tapi bukanlah bagian penulis membahasnya. Di sini, penulis hanyalah akan memberikan sedikit bekal bag peserta didik untuk menghadi Ujian Nasional, khususnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia

Bagi para guru, semacam penulis, sangatlah mubazir untuk terus ikut campur, melibatkan diri dalam polemik. Mendingan mempersiapkan anak-anak untuk siap dan tegar menghadapi Ujian Nasional. Untuk peserta didik, persiapkan dan tegarkan diri kalian menghadapinya. Penulis yakin, kalian dengan bekal keseriusan belajar, mengikuti proses pembelajaran yang dibimbing dan dimotivasi oleh guru-guru kalian yang semakin profesional, kalian akan mampu menghadapi Ujian Nasional. Iya, kan?

Untuk itulah penulis menyajikan bahan yang mudah-mudahan bisa dijadikan panduan untuk menghadapinya. Berikut penulis sajikan ringkasan materi, contoh, dan soal-soal yang sejalan dengan Ujian Nasional. Semuanya penulis sajikan sesuai dengan SKL-nya. Oke, sudah siap kan? Yuk, kita mulai dengan SKL yang pertama. Awas lho, jangan lupa kalian berdoa sebelum membaca agar senantiasa digampangkan oleh Alloh.

SKL 1

Siswa mampu membaca dan memahami berbagai jenis wacana nonsastra serta menanggapi secara kritis berbagai ragam wacana yang berupa table, grafik, laporan pengamatan/percobaan, artikel ilmiah, hasil penelitian, resensi, dan berbagai jenis paragraf.

Ruang Lingkup Materi dan Pelatihan

A. Gagasan Utama

Gagasan utama/ide pokok/gagasan pokok adalah permasalahan inti yang dibicarakan dalam sebuah paragraf. Gagasan pokok merupakan jawaban dari pertanyaan, apakah yang dibicarakan dalam paragraf tersebut? Gagasan pokok bisa berwujud kalimat utama dan bisa berwujud pikrian utama. Melihat letaknya, gagasan pokok bisa di awal paragraf (deduktif), di akhir paragraf (induktif), bisa di awal dan dipertegas di akhir paragraf (variatif), bisa juga terletak pada semua kalimat paragraf tersebut (deskriptif). Sebuah paragraf terbentuk oleh gagasan pokok dan gagasan penjelas.

Paragraf yang baik hanya mengandung satu gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas. Gagasan penjelas merupakan gagasan-gagasan yang bersifat menjelaskan atau menguatkan gagasan pokok. Semua gagasan penjelas harus disusun secara koheren atau harmonis. Keharmonisan sebuah paragraf diakibatkan oleh adanya hubungan yang jelas antarkalimat yang ada dalam paragraf tersebut. Dilihat dari isi dan tujuannya, paragraf terdiri atas paragraf eksposisi, narasi, persuasi, argumentasi, dan deskripsi.

Eksposisi adalah paragraf yang berisi informasi dan penjelasan tentang sesuatu agar orang yang tidak tahu menjadi tahu. Narasi adalah paragraf yang berisi cerita tentang suatu kejadian atau peristiwa secara kronologis agar pembaca tersentuh atau terhibur. Persuasi adalah paragraf yang berisi ajakan, rayuan, atau pendekatan yang disertai contoh dan bukti atau alasan agar pembaca terpengaruh dan mau mengikuti keinginan penulis. Argumentasi adalah paragraf yang berisi tentang sesuatu yang disertai alasan yang kuat dan logis, bukti-bukti agar pembaca merasa yakin akan kebenaran sesuatu itu. Deskripsi adalah paragraf yang memerinci suatu keadaan secara emosional agar pembaca seolah-olah merasa, melihat, dan mengalami sendiri keadaan tersebut.

Contoh 1

Kosa kata memegang peranan dan merupakan unsur yang paling mendasar dalam kemajuan berbahasa, hususnya dalam karang-mengarang. Jumlah kosa kata yang dimiliki seseorang akan menjadi petunjuk tentang pengetahuan seseorang. Di samping itu jumlah kosa kata yang dikuasai seseorang, akan menjadi indikator bahwa orang itu mengetahui semakin banyak konsep. Semakin banyak kata yang dikuasai, samakin banyak pula pengetahuannya.

Paragraf di atas merupakan paragraf deduktif karena gagasan pokoknya terletak di awal paragraf, yaitu kosa kata memegang peranan dan merupakan hal yang mendasar dalam kemampuan berbahasa, khususnya dalam karang-mengarang. Gagasan pokok tersebut diperjelas oleh gagasan-gagasan penjelas yakni jumlah kosa kata yang dimiliki seseorang menjadi petunjuk pengetahuan seseorang; jumlah kosa kata yang dikuasai seseorang menjadi indikator jumlah konsep yang dimiliki seseorang; semakin banyak kata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pengetahuan seseorang.

Contoh 2

Bagi seorang anak mempelajari bahasa Indonesia di sekolah tidak menjadi halangan untuk memantapkan penguasaan bahasa daerahnya. Sepulang sekolah, anak akan kembali menggunakan bahasa daerahnya, baik dalam pergaulan dengan teman maupun dengan orang tuanya. Mereka lebih akrab dengan menggunakan bahasa daerah. Di kelas maupun di luar kelas unsur bahasa daerah tetap masuk pada diri si anak. Apalagi bila ditambah oleh gurunya yang juga seorang penutur asli bahasa daerah. Itulah faktor-faktor yang membuat keterampilan berbahasa daerah seorang anak melaju dengan cepat.

Paragraf di atas merupakan paragraf induktif karena gagasan pokoknya terletak di akhir paragraf, yaitu faktor-faktor yang membuat keterampilan berbahasa daerah seorang anak melaju dengan cepat. Gagasan-gagasan sebelumnya merupakan gagasan penjelas.

Contoh 3

Peningkatan taraf pendidikan petani sama pentingnya dengan usaha peningkatan taraf hidupnya. Petani yang bependidikan cukup akan mampu mengubah sistem pertaniannya dengan baik. Bercocok tanam yang tadinya hanya untuk kebutuhan sendiri akan diubahnya menjadi kebutuhan pangan; menjadi petani yang produktif. Mereka akan mampu menunjang pembangunan. Mereka akan mampu memberikan umpan balik yang setimpal terhadap perencana pembangunan. Karena itu, peningkatan taraf pendidikan para petani sangat diperlukan dan mendesak.

Paragraf di atas merupakan paragraf variatif atau campuran karena gagasan pokoknya terletak di awal paragraf dan dipertegas di akhir paragraf, yaitu peningkatan taraf pendidikan petani sama pentingnya dengan usaha peningkatan taraf hidupnya. Gagasan tersebut diulang atau dipertegas di akhir paragraf yaitu karena itu peningkatan taraf pendidikan petani sangat diperlukan dan mendesak.

Contoh 4

Ramainya keruyuk ayam bersahutan mulai berkurang. Semakin lama semakin langka. Akhirnya hanya terdengar satu-satu saja kokok nyaring ayam tersebut. Ayam-ayam itu mulai meninggalkan kandangnya. Mereka pergi ke pelataran rumah. Suara arus lalu lintas di jalan raya mulai ramai meraung-raung, menggila kembali pada keadaan seperti kemarin siang. Klakson motor, mobil, dan jeritan kereta api sudah membisingkan telinga dan menerobos ke bilik-bilik rumah di sepanjang jalan itu. Mulai terdengar sayup-sayup suara para pedagang menjajakan dagangannya. Suara sayup-sayup itu akhirnya menjadi jelas dan makin ramai.

Paragraf di atas meupakan paragraf deskriptif karena gagasan pokoknya tersirat pada setiap kalimat paragraf tersebut. Suasana pagi hari dilukiskan oleh setiap kalimat yang ada. Dengan demikian, gagasan utamanya tersebar pada seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut.

Contoh 5

Mata seseorang bisa saja mengalami gangguan. Gangguan tersebut faktornya bisa dari luar, bisa juga dari dalam. Faktor dari luar misalnya akibat sengatan matahari, TV, komputer, dsb. Faktor dari dalam misalnya akibat kekurangan vit A. Selain itu, efek samping obat juga bisa mengganggu mata.

Paragraf di atas tergolong eksposisi karena berisi informasi tentang faktor-faktor yang menyebabkan gangguan pada mata. Tentu saja tujuannya agar pembaca berhati-hati menjaga matanya.

Contoh 6

Puncak gunung yang hijau menambah indahnya pemandangan di sana. Air jernih yang mengilap bagaikan kaca disinari matahari. Di tepi danau, tampak pohon-pohon dan bunga-bungaan beraneka ragam jenis, beraneka warna. Udara yang segar dari gunung dan danau ditambah tiupan semilir angin menambah kebugaran siapa pun yang berada di sana.

Paragraf di atas tergolong deskripsi karena berisi rincian atau lukisan keadaan dan suana di pinggir danau.

Contoh 7

Saya kembali beradu pandang dengannya di pintu masuk. Tatapannya jelas menyiratkan sapaan khusus. Mungkin dia bertanya-tanya. Saya memperhatikan tahi lalatnya. Ada sebersit uban dirambutnya yang berombak. Lalu saya merasakan sama-sama menahan senyum waktu ia berdiri di sebelah penjaga pintu.

Paragraf di atas tergolong narasi karena menceritakan suatu kejadian yang disusun secara kronologis sehingga menjadi sebuah cerita yang menarik.

Contoh 8

Pemerintah akhinya menyetop penerimaan mahasiswa baru IPDN selama satu tahun. Hal ini akibat kecerobohan dan kekerasan yang terjadi di kampus tersebut sehingga kematian mahasiswa kembali terulang. Para orang tua banyak yang bergembira dengan keputusan tersebut karena mereka tidak mau anak-anaknya menjadi korban kekerasan. Tidak sedikit para ahli berpendapat, bahkan banyak yang mengusulkan IPDN dibubarkan. Mendiknas malah menilai bahwa IPDN jelas-jelas melanggar UU Sisdiknas. Sebagai contoh, sebagai sebuah institut seharusnya menghasilkan sarja tetapi IPDN hanya menghasilkan D3.

Paragraf di atas tergolong argumentasi karena berisi pernyataan-pernyataan yang disertai dengan alasan atau bukti-bukti yang meyakinkan sehingga pembaca pun merasa yakin bahwa pembekuan penerimaan mahasiswa baru di IPDN selama satu tahun merupakan tindakan pemerintah yang tepat.

Contoh 9

Perkembangan teknologi informasi tentu saja memberikan pengaruh. Pengaruh tersebut bisa positif, bisa juga negatif. Perkembangan internet, misalnya dapat memberikan pengaruh positif seperti begitu gampang mencari informasi yang diperlukan. Tapi betapa tidak sedikit pengaruh negatifnya. Tidak sedikit para pengguna jasa internet yang menyalahgunakan fungsi dan peran internet. Para remaja begitu gampang mencari sesuatu yang birsifat merusak moral. Dengan membuka situs-situs porno misalnya. Kita tidak bisa menolak perkembangan tersebut. Yang penting, berhati-hatilah dalam penggunaannya. Perkuat keimanan kita dan mari kita gunakan jasa internet untuk hal yang positif.

Paragraf di atas tergolong persuasi karena berisi ajakan kepada pembaca untuk memperkuat iman dan menggunakan jasa internet untuk hal yang positif disertai dengan contoh-contohnya.

Pelatihan

  1. Kartu katalog memuat keterangan tentang buku yang terdapat di perpustakaan. Kartu tersebut berukuran 7,5 x 12,5 cm. Kartu katalog disusun berdasarkan urutan nama-nama pengarang secara alfabetis. Dalam kartu katalog dicantumkan judul buku dan pokok uraian buku.

Ide pokok paragraf di atas adalah....

a. buku di perpustakaan

b. ukuran kartu katalog

c. keterangan buku di perpustakaan

d. penyusunan kartu katalog

e. kartu katalog

  1. Industri perkapalan siap memproduksi jenis kapal untuk mengganti kapal yang akan dibesituakan. Tetapi kemampuan mereka terbatas. Kalau dalam waktu yang singkat harus memproduksi kapal sebanyak yang dibesituakan, jelas industri dalam negeri tidak akan mampu. Untuk meningkatkan kemampuan ini memerlukan waktu. Sebaiknya hal ini dilakukan secara bertahap.

Dilihat dari letak kalimat utamanya, paragraf di atas tergolong jenis paragraf....

a. induktif

b. deduktif

c. variatif

d. deskriptif

e. campuran

  1. Manusia lahir dari suatu masyarakat yang mempunyai sejarah dan tradisi. Ia merupakan individu yang mau tidak mau harus mewarnai seperangkat nilai tradisional. Namun dalam proses kedewasaan ia akan menghadapi kenyataan yang selalu berubah. Suatu realitas kehidupan yang menyuguhkan tantangan yang berbeda, baik skala maupun dimensinya.

Kalimat yang bukan merupakan gagasan penjelas paragraf di atas adalah...

a. Manusia lahir dari suatu masyarakat yang memiliki sejarah dan tradisi.

b. Manusia merupakan individu.

c. Manusia harus mewarnai seperangkat nilai tradisional.

d. Dalam proses kedewasaan manusia menghadapi kenyataan yang selalu berubah.

e. Realitas kehidupan menyuguhkan tantangan yang berbeda.

  1. 1. Makasudnya, selalu tergantung pada pasaran produk agraris tersebut.

2. Hal ini kadang-kadang diciptakan oleh negara-negara yang kuat ekonominya.

3. Perekonomian agraris memang memiliki beberapa kelemahan.

4. Perekonomian agraris antara lain tidak dapat mandiri.

5. Kalau pasaran lesu, perekonomian agraris ikut lesu.

6. Padahal kelesuan ini tidak selalu merupakan siklus ekonomi yang alamiah.

Agar menjadi paragraf yang koheren, keenam kalimat di atas harus disusun sebaga berikut....

a. 3,4,1,5,6,7

b. 5,6,2,3,4,1

c. 3,5,6,2,4,1

d. 5,2,3,4,1,7

e. 1,2,3,7,6,5

  1. Bacaan yang baik untuk anak berisi contoh yang baik-baik pula. Cara yang dapat dilakukan dengan menampilkan tokoh kartun, boneka, badut yang lucu tetapi mengandung unsur pendidikan. Tokoh binatang yang cerdik pun dapat pula menampilkan pesan moral.

Dilihat dari isinya, paragraf di atas tergolong jenis paragraf....

a. eksposisi

b. deskripsi

c. persuasi

d. narasi

e. argumentasi

B. Membuat dan Menjawab Pertanyaan Isi Paragraf

Membuat dan menjawab pertanyaan maksudnya adalah membuat pertanyan dan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan isi teks. Untuk mengetahui daya pemahaman seseorang terhadap isi teks perlu adanya pengujian. Alat untuk menguji tersebut adalah berupa pertanyaan-pertanyaan.

Sebuah pertanyaan dapat menggunakan kata-kata tanya apa (untuk benda), siapa (untuk orang), di mana (untuk tempat), kapan, bila, bilamana (untuk waktu), berapa (untuk jumlah), mengapa (untuk alasan), dan bagaimana (untuk proses atau cara, keadaan).

Pertanyaan harus dibuat secara lengkap, singkat, jelas, dan sesuai dengan isi bacaan sehingga orang yang akan menjawab mudah menerjemahkan maksud pertanyaan dan mencari jawabannya.

Contoh

Sudah ada ide tetapi sukar untuk menuangkannya dalam tulisan karena mereka dihadapkan pada berbagai persoalan. Mereka susah menentukan, masalah apa yang akan ditulis; berapa panjangkah karangannya?. Hal itu diakibatkan oleh keringnya pengetahuan terhadap topik yang akan dibicarakan. Demikianlah pengalaman seseorang pada awal belajar menulis.

Petanyaan

Mengapa seseorang sukar menuangkan idenya, susah menentukan masalah yang dibicarakan pada awal belajar menulis?

Jawaban

Karena seseorang kering pengetahuan terhadap topk yang akan dibicarakan.

Jawaban tersebut tepat karena, pertama sesuai dengan isi bacaan. Kedua jawaban diawali dengan karena, sebab pertanyaannya mengapa, menanyakan alasan/sebab.

Pelatihan

Masyarakat Jembrana sejak pekan lalu mulai kesulitan memperoleh solar. Selain pengiriman dari Denpasar terlambat, kesulitan tersebut diakibatkan pula oleh peningkatan kebutuhan masyarakat setempat. Saat ini, di sekitar pantai Jembrana sedang musim tangkapan ikan serta penanaman udang. Oleh karena itu, perahu-perahu serta mesin kincir tambak membutuhkan solar dalam jumlah besar.

1. Pertanyaan yang sesuai dengan isi paragraf di atas adalah...

a. Mengapa masyarakat Jembrana sejak pekan lalu mulai kesulitan memperoleh solar?

b. Siapakah yang mengatakan solar tidak diperjualbelikan di Jembrana?

c. Selain dari Denpasar, dari mana lagi masyarakat Jembrana memperoleh solar?

d. Mengapa masyarakat Jembrana saat ini sedang musim tangkap ikan serta penanaman udang?

e. Bahan bakar apakah yang dapat dipergunakan sebagai pengganti solar untuk penggerak kincir?

2. Pertanyaan:

Mengapa perahun dan kincir tambak saat ini membutuhkan solar dalam jumlah besar?

Jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut adalah...

a. Masyarakat Jembrana sedang kekurangan solar.

b. Karena saat ini di pantai Jembrana sedang musim tangkap ikan dan penanaman udang.

c. Saat ini di pantai Jembrana sedang musim tangkap ikan dan pananaman udang.

d. Karena perahu di Jembrana saat ini sedang banyak dipergunakan.

e. Penggunaan perahu dan tambak udang sangat membutuhkan solar dalam jumlah besar.

C. Fakta dan Opini

Sebuah paragraf dibentuk oleh beberapa kalimat yang saling berhubungan (koheren). Kalimat-kalimat tersebut ada yang mengandung ide pokok dan ada pula yang mengandung ide penjelas. Selain itu, kalimat-kalimat tersebut isinya bisa berupa fakta dan bisa berupa opini.

Fakta adalah adalah kalimat dalam paragraf yang menyatakan sesuatu yang nyata, benar-benar ada dan terjadi, bahkan ada bukti-buktinya. Fakta bisa berupa benda, tempat, waktu, atau jumlah. Karena itu, umumnya fakta merupakan jawaban dari pertanyaan apa, siapa, kapan, di mana, atau barapa. Sedangkan opini merupakan kalimat yang berisi pendapat, pikiran, pendirian, pandangan, atau penilaian seseorang terhadap sesuatu. Karena itu, opini umumnya merupakan jawaban dari pertanyaan bagaimana.

Contoh 1

Tirakatan Budaya merupakan acara yang diadakan oleh para seniman dan budayawan menjelang pergantian abad ke-20, di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, 12 Desember 2006.

Pernyataan di atas merupakan fakta dari sebuah paragraf karena acara tirakatan benar-benar terjadi dan dapat menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, dan dimana, yakni:

Apakah yang dimaksud tirakatan dalam paragraf di atas?

Siapakah yang melaksanakan acara tirakatan?

Kapan acara tirakatan dilaksanakan?

Di mana acara tirakatan dilaksanakan?

Contoh 2

Bagus dan enak sekali pembacaan puisi yang dilakukan W.S. Rendra pada acara tirakatan budaya tersebut.

Pernyataan di merupakan opini karena penilaian bagus dan enak merupakan hal yang subjektif dan merupakan jawaban dari pertanyaan bagaimana, yakni

Bagaimanakah pembacaan puisi yang dilakukan W.S. Rendra dalam acara tirakatan budaya?

Pelatihan

1. Kalimat yang berupa fakta terdapat pada...

a. Skap keprihatinan mewarnai berbagai ekpresi para seniman muda maupun seniman tua.

b. Penghayatan para seniman yang tampil membawakan karyanya sangat memaukai saya.

c. Mereka mengatakan bahwa mereka merupakan monster bagi diri sendiri di saat reformasi.

d. Pada acara Tiralatan Budaya, Rendra memaparkan kepedihan hatinya tentang kemanusiaan.

e. Acara ini dinilai sangat sukses dan dapat menghbur para pengunjung yang memadati ruangan itu.

2. (1) Setelah Indonesia membatalkan membeli pesawat tempur F- 16 dari AS, Pesawat Mirage 2(XX) dari Francis, dan Mig – 19/Fulcrum, pemerintah memutuskan untuk membeli Sukhoi – 30 dari Rusia. (2) Menurut Habibie, pesawat tempur Sukhoi – 30 memiliki keunggulan, terutama dalam aerodinamikanya. (3) Selanjutnya, beliau mengemukakan bahwa kewenangan untuk memilih pesawat tempur yang akan dibeli berada pada TNI. (4) Untuk menentukan pilihan pesawat tempur yang akan dibeli, kita harus mempetimbangkan harganya, kata Habibie. (5) Akan tetapi menurut Ketua Bappenas, pilihan jenis pesawat tempur pengganti F – 16 akan diumumkan pekan depan.

Opini pada paragraf di atas terdapat pada kalimat nomor....

a. (1)

b. (2)

c. (3)

d. (4)

e. (5)

D. Konsep dalam Bacaan

Konsep adalah ide atau inti/garis besar pegertian yang abstrak suatu peristiwa atau sesuatu yang yang longkret. Dalam wacana, konsep dapat berupa pernyataan-pernyataan atau penjelasan.

Contoh 1:

Seseorag memberikan penilaian terhadap karya orang lain. Peniliannya tidak hanya bersifat positif tetapi juga negatif karya tersebut. Selain itu, ia pun memberikan saran-saran untuk perbaikan karya tersebut pada masa yang akan datang. Kegiatan orang tersebut disebut kritik.

Konsep tentang kritik berdasarkan ilustrasi di atas adalah:

Kitik adalah kegiatan memberikan pertimbangan baik dan buruk tehadap karya seseorang yang disertai saran-saran dejmi perbaikan pada masa yang akan datang.

Contoh 2:

Kegiatan ini diawali dengan mencatat pokok-pokok permasalahan yang ditemukan dalam bacaan. Setelah itu, masalah-masalah tersbut dihubung-hubungkan dengan menggunakan bahasa sendiri tanpa memperhatikan lagi sistematika bacaan asli. Kadang-kadang ada bagian isi yang tidak termuat dalam tulisan ini. Tulisan semacam ini disebut rangkuman.

Dalam paragraf di atas terdapat konsep tentang rangkuman. Konsep tersebut adalah:

Rangkuman adalah hasil mengelompokkan inti-inti permasalahan dari suatu bacaa yang dikembangkan dengan bahasa sendiri tanpa memperhatikan sistematika dan isi bacaan aslinya.

Pelatihan:

1. Di antara tulisan atau karangan itu ada yang bersifat memapakan atau menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa, atau sesuatu dengan sejalas-jelasnya dengan tujuan untuk memberikan informasi kepada kepada pembaca tentang kejadian, peristiwa atau sesuatu tersebut. Karangan semacam inilah yang dikatakan eksposisi.

Konsep eksposisi berdasarkan paragraf di atas adalah....

a. karangan yang bersifat menjelaskan suatu kejadian secara rinci

b. karangan yang menjelaskan suatu kejadian atau peristiwa, atau sesuatu secara rinci untuk memberikan informasi kepada pembaca

c. karangan yang bersifat mempunyai tujuan menjelaskan sesuatu kepada pembaca

d. karangan yang bertujuan untuk memperjelas dan menginforasikan seasuatu kepada pembaca

e. karangan yang menggambarkan suatu kejadian secara rinci

2. Seseorang yang akan melaksanakan riset pertama-tama menyiapkan berbagai pertanyaan secara tertulis. Pertayaan yang disusun tentu saja sesuai dengan objek yang akan diteliti. Jawaban yang diharapkan berupa tanggapan dari kelompok yang sudah ditentukan. Jawaban tersebut bisa diperoleh melalui pertanyaan tertulis atau melalui wawancara. Alat survei seperti itulah yang disebut dengan kuesioner.

Konsep kuesioner berdasarkan ilustrasi di atas adalah....

a. seseorang yang akan melakukan riset terhadap kelompok tertentu

b. jawaban pertanyaan terhadap hal yang akan diteliti

c. alat riset yang berupa daftar pertanyaan tertulis untuk kelompok tertentu

d. persiapan catatan yang dilakukan seorang peneliti yang berupa pertanyaan

e. pertanyaan dan jawaban yang disusun sewaktu seseorang melakukan riset terhadap kelompok tertentu.

E. Judul Bacaan

Judul merupakan nama atau label sebuah tulisan Pemberian judul harus memperhatikan isi, menarik, mudah diingat, sugestif, singkat, berupa kata atau frase. Selain itu, penulisan judul harus memperhatikan kaidah EYD. Judul harus ditulis dengan menggunakan huruf kapital semua atau huruf kapital pada fonem aal setiap unsur judul tersebut kecuali kata tugas yang disimpan di tengah judul; judul tidak boleh diakhiri oleh tanda baca; bila dipenggal, pemenggalan harus sesuai dengan frasenya.

Contoh:

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

PENCEMARAN LINGKUNGAN

DI WILAYAH JEMBATAN LIMA

Sebagai kutipan, judul harus ditulis dicetak miring atau digarisbawahi.

Pelatihan

  1. pencemaran lingkungan di berbagai wilayah indonesia

Bila kelompok kata di atas dijadikan judul bacaan maka penulisannya yang benar adalah....

  1. PENCEMARAN LINGKUNGAN DI BERBAGAI WILAYAH INDONESIA
  2. Pencemaran lingkungan di berbagai wilayah Indonesia
  3. Pencemaran Lingkungan di Berbagai Wilayah Indonesia.
  4. Pencemaran Lingkungan Di Berbagai Wilayah Indonesia
  5. Pencemaran Lingkungan di Berbagai wilayah Indonesia

  1. Siswa SMA harus menguasai kemampuan membaca pemahaman karena kemampuan ini bermanfaat untuk membantu mereka meningkatkan prestasi belajar. Dengan kemampuan ini, mereka pun dapat mempercepat penyeleesaian membaca suatu bahan bacaan. Dengan kemampuan ini pula mereka akan terlatih kecepatan berpikirnya.

Judul yang tepat untuk bacaan di atas adalah....

  1. Manfaat Membaca Pemahaman Dilihat dari Berbagai Segi bagi Siswa SMA
  2. Manfaat Membaca Pemahaman bagi Siswa SMA
  3. Manfaatkan Membaca Pemahaman Bagi Siswa SMA!
  4. Beberapa di Antara Manfat Membaca Pemahaman bagi Siswa SMA
  5. Manfaat Membaca Pemahaman bagi Siswa

F. Menanggapi Isi Bacaan

Sebuah pembicaraan atau bahan bacaan tidak sedikit menimbulkan bahan pembicaraan yang lain, baik yang pro maupun yang kontra. Pembicaraan tersebut sering dikenal dengan istilah tanggapan. Tanggapan terhadap isi bacaan merupakan pemberian komentar terhadap permasalahan inti yang dibahas dalam bacaan. Tanggapan bisa berupa tanggapan positif dan negatif. Tanggapan positif adalah komentar yang sifatnya mendukung, menguatkan, atau mengiayakan isi bacaan. Sedangkan tanggapan negatif merupakan komentar yang sifatnya melemahkan, menolak, atau meniadakan isi bacaan. Selain itu, tanggapan bisa diberikan dari berbagai segi atau sudut pandang, misalnya agama, sosial, poltil, bahasa, dan sebagainya. Tanggapan yang diberikan harus memnuhi syarat logis dan beralasan, selain harus sesuai dengan inti masalah.

Contoh:

Membaca pemahaman sangat penting dibandingkan dengan kemampuan berbahasa lainnya. Misalnya kemampuan mendengarkan. Mendengarkan sesuatu sangatlah terbatas jangkauannya oleh ruang dan waktu. Tetapi dengan membaca pemahaman, orrang dapat melakukannya di mana dan kapan saja, serta dapat dilakukan sewaktu dan dengan cepat kita memperoleh informasi yang diperlukan.

1. Tanggapan positif:

Memang benar membaca pemahaman begitu efektif dilakukan untuk memperoleh informasi karena dapat dilakukan kapan dan di mana saja.

Atau

Dengan membaca pemahaman seseorang akan dengan cepat memperoleh informasi karena membaca dapat dilakukan kapan dan di mana saja serta dilakukan bila diperlukan.

2. Tanggapan negatif:

Memang sangat diperlukan kemampuan membaca pemahaman tetapi tidaklah semua oang dapat mengusainya dengan baik sehingga ttap saja sulit memahami isi bacaan.

Pelatihan

1. Dalam kenyataan masih banyak siswa yang belum memiliki kemampuan membaca pemhaman secara memadai. Hasil penelitian seseorang tahun 1992 membuktikan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa STM di Yogyakarta baru 30 %. Hal ini pulalah yang dijadikan sebagai bukti kegagalan pengajaran kemampuan membaca pemahaman kepada siswa tersebut atau belum memadai.

Tanggapan yang sesuai dengan isi paragraf di atas adalah...

a. Pantaslah siswa STM itu kemampuan membaca pemahamannya seperti itu karena mereka lebih mengutamakan praktik.

b. Rendah sekali kemampuan membaca pemahaman siswa STM tersebut dan perlu segera dicarikan solusinya.

c. Rendah sekali kemampuan membaca pemahaman siswa STM di Yogyakarta tersebut dan perlu segera dicarikan jalan keluarnya.

d. Tidak benar hasil penelitian tersebut dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kapan penelitian itu dilaksanakan?

e. Hasil penelitian tersebut janganlah dijadikan kesimpulan untuk kemampuan seluruh siswa STM.

2. Menurut seorang dokter ahli kebidanan, wanita dapat hamil sejak usia 12 tahun hingga 45 tahun atau 50 tahun. Kehamilan yang terjadi pada masa reproduksi (subur) di baah 20 tahun dan di atas 50 tahun menibulkan risiko kematian yang tinggi. Angka kematian sangat tinggi pada ibu yang melahirkan ketika dia berumur kurang dari 20 tahun dan juga pada ibu yang berusia lebih dari 50 tahun.

Tanggapan positif yang tepat terhadap isi paragraf di atas adalah...

a. Wanita yang melahirkan dalam usia di baah 20 tahun berisiko tinggi karena itu perlu usaha penyadaran khususnya terhadap kaum wanita tentang risiko kematian tersebut.

b. Hamil dalam usia dini memang keinginannya sendiri. Tidak perlu kita mempersoalkan hal itu.

c. Wanita yang menikah pada usia di bawah 20 tahun tentu saja akan mengalami kematian dalam melahirkan.

d. Melahirkan merupakan proses persalinan yang memerlukan energi dan mental yang stabil karena itu ibu-iu harus siap-siap menghadapi itu.

e. Semua wanita pasti melahirkan. Janganlah takut dengan kematian meskipun menkah pada usia dini.

3. Tanggapan negatif yang tepat terhadap isi paragraf di atas adalah...

a. Memang kaum perempuan harus hati=hati dalam menentukan usia pernikahan karena hubungannya dengan proses kelahiran.

b. Masalah kematian adalah urusan Tuhan sehingga kaum wanita tidak perlu memikirkan usia pernikahan dan persalinan.

c. Meskipun kemayian ada di tangan Tuhan tetap saja kita harus melakukan usaha yang maksimal.

d. Walaupun kita melahirkan pada usia yang tepat, sesuai dengan pendapat ahli tadi, bila waktunya kita harus meninggal, kita tidak bisa melawan takdir.

e. Memeang benar hamil pada usia dini rentan dan berisiko kematian. Karena itu, rencanakan pernikahan dan kehamilan secara matang.

G. Tabel dan Grafik

Tebel adalah daftar angka dan atau data yang dituangkan ke dalam kolom-kolom yang dipadukan dengan tulisan berupa identitas angka atau data tersebut. Sedangkan grafik merupakan daftar angka atau data yang dituangkan dalam bentuk garis, titik, batang, dan sebagainya. Tabel dan grafik sebenarnya merupakan bentuk yang lebih efektif dan efisien dari bentuk uraian bahasa yang panjang lebar tentang suatu angka atau data. Membaca tabel dan grafik artinya memahami isi dan maksud tabel dan grafik tersebut dengan cara mengalihkan bentuk dari angka-angka menjadi uraian bahasa yang singkat, jelas, baik dan benar. Hal yang harus dierhatikan dalam membaca tabel dan grafik adalah judul, tulisan, angka-angka, dan keterangan yang terdapat pada tabel dan grafik tersebut.

Contoh 1:

Salah satu ekstrakurikuer di SMAN 2 Tasikmalaya adalah dekressi atau depot seni dan kreasi siswa. Dari tahun ke tahun anggotanya tidak stabil, kadang naik dan kadang turun. Tahun 2005, anggota dekressi cabang seni tradisonal 15 orang dengan rincian, perempuan 10 orang, laki-laki 5 orang. Cabang seni modern 35 orang dengan rincian 15 orang perempuan dan 20 orang laki-laki. Cabang teater 20 orang dengan rincian perempuan 15 orang, laki-laki 5 orang. Jumlah total 70 orang dengan rincian perempuan 35 dan laki-laki 35 orang. Tahun 2006, cabang seni tradisonal 20 orang dengan rincian 15 orang perempuan dan 5 orang laki-laki. Cabang seni modern 70 orang dengan rincian 20 orang perempuan dan 50 orang laki-laki. Cabang teater 20 orang dengan rincian perempuan 15 orang, laki-laki 5 orang. Jumlah total 110 orang dengan rincian perempuan 50 orang dan laki-laki 60 orang.

Data di atas bila dialihkan bentuknya ke dalam tabel akan lebih efektif dan lebih jelas seperti berikut.

TABEL ANGGOTA DEKRESSI TAHUN 2005 – 2006

Jenis Seni

Tahun 2005

Tahun 2006

Keterangan

L

P

L

P

1. Seni Tradisonal

5

10

15

5

2. Seni Modern

20

15

50

20

3. Seni Teater

5

15

5

15

Jumlah L/P

30

40

70

40

Jumlah Total

70

110

Dari Tabel di atas dapat dikemukakan berbagai pernyataan yang sesuai dengan isinya, misalnya:

1. Jumlah anggota dekressi perempuan tahun 2005 dan 2006 sama yaitu 40 orang;

2. Jumlah peminat seni tradional dan teater tahun 2005 dan 2006 lebih banyak perempuan;

3. Jumlah anggota laki-laki seni modern tahun 2005 sama dengan jumlah anggota perempuan tahun 2006 yaitu 20 orang;

4. Tiap tahun jumlah anggota teater perempuan di atas laki-laki;

5. dsb.

Contoh 2:

GRAFIK PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 1997 – 2005

Bila dibaca grafik di atas akan menjadi uraian sebagai berikut.

Laju pertembuhan ekonomi yang mengalami kemajuan lebih besar, menurut grfik di atas, terjadi pada thun 2003 – 2004, yaitu 20 %. Dibandingkan dengan tahun-tahun yang lain, yang hanya 5 % sampai 10 %, bahkan terjadi penurunan pada tahun-tahun tertentu.

Pelatihan:

1. Tabel

Kata Berimbuhan

Makna

2. kekuatan, kesatuan

3. kedutaan, kerajaan

4. kehujanan, kepanasan

5. kelelahan, kecapaian

6. kebesaran, kepanjangan

1. hal/sifat

2. tempat

3. dikenai/menderita

4. perbuatan tidak disengaja

5. terlalu/intensitas

Makna imbuhan ke-an yang tidak tepat berdasarkan tabel di atas adalah nomor....

  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5

2. Grafik

Program Pemberantasan Buta Aksara di Indonesia

Tahun

Cara Pemberantasan Buta Aksara

1946

1951

1960

1960 – 1970

1970 – 1994

1995

2004

Kursus Pengetahuan Umum (KPU) A, B, C

Rencana 10 Tahun Pembeantasan Buta Huruf (PBH)

Komando Presiden untuk Menuntaskan BH s.d. 1964 kecuali Irja

Program Pemberantasan Buta Huruf Fungsional

Program Kejar Paket A

Program Keaksaraan Fungsional

SBY mencanangkan Gerakan Percepatan PBA (15 Desember 2004)

Pernyataan yang sesuai dengan isi tabel dan grafik di atas adalah...

a. Pemberantasan buta huruf pada tahun 1971 dilaksanakan melalui program kejar paket A.

b. Jumlah penduduk buta huruf pada tahun 1971 sama dengan tahun 1980 dan tahun 1990.

c. Jumlah penduduk buta huruf sampai dengan tahun 2003 paling banyak usia berusia 10 tahun.

d. Pemberantasan buta huruf mulai dilaksanakan pada tahun 1971 dan berakhir pada tahun 2004.

e. Pemberantasan buta huruf pada tahun 2000 dan 2003 sebanding dengan tahun 1990.

Na, anak-anakku! Pertemuan kali ini, sekian dulu ya? Pasti, lain kali kita sambung lho! Bahkan materinya bakal lebih hot, hot, hooot! Key? Daaaaaaaaaggg......!

Selasa, 2008 Agustus 12

Pembelajaran

PARAGRAF

Kita tahu bahwa dari suatu wacana bias muncul berbagai soal, baik dalam ulangan harian guru di sekolah maupub dalam ujian nasional bahasa Indonesia. Wacana terdiri atas beberapa paragraph. Sebagai bekal menghadapi soal-soal yang berhubungan dengan paragraph, di sini penulis awali pengyajian materi tntang paragraph. Cermatilah uraian,contoh dan evaluasi yang disajikan.

  1. Pengertian

Paragraf adalah kumpulan/kesatuan kalimat yang satu sama lain saling berhubungan dan memiliki satu ide pokok dan beberapa ide penjelas.

  1. Ciri Paragraf

Paragraf yang baik memiliki cirri sebagai berikut:

  1. hanya mengandung satu ide pokok;
  2. kesatuan, yakni tiap paragraf hanya membicarakan satu ide pokok/topik;
  3. koherensi, yakni kalimat-kalimatnya satu sama lain saling menunjang.

Masalah yang dibicarakan dalam paragraf berupa fakta dan opini. Fakta merupakan kalimat atau prnyataan tentang suatu yang realistis atau sudah terjadi. Opini merupakan pernyataan atau kalimat tentang sesuatu yang masih berupa pendapat, saran, atau kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

  1. Unsur Paragraf
  1. topik/ide pokok, yaitu inti permasalahan yang dibicarakan dalam paragraf. Ide pokok bisa berupa pikiran utama/pokok pikiran, bisa juga berupa kalimat utama.
  2. kalimat utama, yaitu bila ide pokok paragraf tersbut secara tersurat kalimatnya tertulis dalam paragraf tersebut. Paragraf yang baik hanya mengandung satu gagasan utama atau kalimat utama.
  3. kalimat penjelas, yaitu ide penjelas yang secara tersurat kalimatnya ada dalam paragraf tersebut.
  4. pungtuasi, yaitu tanda baca yang digunakan dalam paragraf.
  5. judul (manasuka) yaitu nama atau label atau titel sebuah karangan. Judul sebuah karangan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  1. menarik/provokatif/aktual;
  2. berbentuk frase, tidak menggunakan tanda baca;
  3. relevan, ada kesesuaian dengan isi;
  4. logis; dan
  5. spesifik, tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit.

Contoh penulisan judul yang benar:

TRAGEDI HILANGNYA PESAWAT ADAM AIR

SEBAGAI SEBUAH RENUNGAN

ATAU

Tragedi Hilangnya Pesawat Adam Air sebagai Sebuah Renungan

  1. Macam-macam Paragraf Berdasarkan Letak Ide Pokok
  1. Deduktif, ide pokok/kalimat utama diletakkan di awal paragraph.
  2. Iinduktif, ide pokok/kalimat utama diletakkan di akhir paragraph.
  3. Campuran/variatif, ide pokok/kalimat utama diletakkan di aal paragraph dan dipertegas di akhir paragraph.
  4. Deskriptif, ide pokok/kalimat utama tersirat dalam setiap kalimat paragraph tersbut.
  1. Macam Karangan Berdasarkan Cara Mengembangkan Gagasan

1. Eksposisi, karangan yang mengembangkan atau menjelaskan suatu keadaan/masalah/proses. Tujuannya untuk menyampaikan informasi atau penjelasan kepada pembaca.

Contoh:

Menjelang pemilu para pendukung partai saling mencaci dengan pendukung kontestan lainnya. Bahkan tidak jarang terjadi benturan perkelahian, dan terjadi korban di antara mereka. Hasilnya, ada yang cidera bahkan ada yang meninggal. Usai pemilu mereka pun tidak mendapatkan apa-apa kecuali luka hati dan kehilangan saudara.

2. Deskripsi, karangan yang menggambarkan atau memerinci suatu tempat/keadaan secara mendetil sehingga pembaca merasakan seolah-olah melihat sendiri apa yang digambarkan.

Contoh:

Kamar tidurku memang cukup sederhana. Ukurannya hanya 4 x 3 meter. Pintunya langsung menghadap ke tengah rumah. Bila pintu itu terbuka, kelihatan daun jendela sebanyak tiga buah menghadap ke jalan raya. Sebelah kanan jendela, rapat ke tembok sebuauh lemari pakaian. Dengan jarak dua meteran, berhadapan dengan lemari pakaian adalah tualet. Jarak satu meter ke kiri drari talet, terhampar kasur tanpa ranjang memanjang ke arah selatan.

3. Persuasi, karangan yang menjelaskan sesuatu secara emosional sehingga pembaca terpengaruh dan mau melakukan sesuatu yang diinginkan penulis. Tujuannya untuk memengaruhi, membujuk, atau mengajak pembaca secara sadar melakukan sesuatu.

Contoh:

Hidroponik merupakan teknik bercocok tanam di lahan tanpa air. Teknik ini sangat bermanfaat bagi petani yang memiliki lahan sempit dan kurang air. Remaja yang memiliki hobi tanam-menanam dapat mencoba sistem ini. Siapa tahu Anda kelak jadi petani tanaman hias. Atau dapat juga memanfaatkan lahan sempit halaman rumah untuk percobaan sistem hidroponik dalam pot sehingga rumah kelihatan bernuansa asri dan indah. Marilah kita sukseskan program pemerintah untuk menghijaukan lingkungan dengan bercocok tanam secara hidroponik.

4. Narasi, karangan yang memaparkan suatu peristiwa secara kronologis atau berdasarkan urutan waktu dan kejaian sehingga menjadi sebuah alur cerita.

Contoh:

Duduk bersandar pada sebatang pohon kelapa di tepi pantai, mata Deris jauh memandang ke laut lepas dengan tatapan kosong. Suasana malam di pantai itu dan ramainya wisatawan tidak ia pedulikan. Hatinya sepi. Dalam benaknya hanya ada sorang gadis yang tidur di pangkuannya. Masih ia rasakan hangat tubuhnya, manis senyumnya, halus kulitnya. Di telinganya masih terngiang kata-kata mesra gadis itu, ”Pi, lebih aku mati saja daripada tidak bisa bersatu dengan Papi”. Tapi itu sebulan yang lalu. Kini gadis itu entah kemana. Tiada kabar berita lagi dan tanpa sedikit pun alasan yang jelas. Itulah yang membuat Deris saat ini menjadi manusia yang tak bergairah.

5. Argumentasi, karangan yang memapakan sesuatu dengan memberikan alasan, bukti atau contoh-contoh sehingga pembaca measa yakin akan kebenaran yang dikemukakan penulis. Tujuannya untuk meyakinkan pembaca sehingga ia terpengaruh.

Contoh:

Menjaga kecukupan gizi, terutama pada balita sangat penting. Sebab orang yang kekurangan gizi berisiko mengalami proses penuaan pada mata. Mengingat pentingnya hal ini maka pemerintah memrogramkan bagaimana cara menolong keadaan gizi pada anak dan balita. Mengapa anak dan balita? Sebab anak dan balita merupakan aset negara pada masa yang akan datang. Selain itu, bila gizi anak dan balita jelek, pemerintah akan dibebani oleh penyakit penuaan yang terlalu cepat. Akibatnya, negeri ini akan dihuni oleh manusia yang lemah.

Senin, 2008 Agustus 11

Pengajaran

PEMBELAJARAN TUNTAS (MASTERY-LEARNING)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulu oprasional yang dirancang, direncanakan, dan diimplementasikan oleh satu satuan pendidikan tertentu. KTSP bertujuan agar kualitas pendidikan meningkat dan memiliki standar yang sesuai dengan tuntutan pemerintah tanpa melupakan nilai-nilai budaya dan lingkungan sekolah. Artinya, pendidikan diharapkan memiliki kualitas internasional dengan mengakar pada budaya sendiri.

Salah satu perbedaan KTSP dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya adalah pendekatan pembelajaran. KTSP menganut pendekatan pembelajaran tuntas (mastery learning). Tanpa bermaksud mengecilkan wawasan rekan-rekan guru, tulisan ini berusaha menambahkan informasi tentang pendekatan tersebut kepada sesama guru. Tidak sedikit di lapangan, masih ada rekan-rekan yang kurang memahami perbedaan pendekatan pembelajaran berdasarkan KTSP dengan kurikulum sebelumnya.

Pembelajaran tuntas (mastery learning) merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menuntut peserta didik menguasai semua standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran tertentu secara tuntas. Hal ini hanya akan tercapai bila peserta didik diberi keleluasaan waktu dalam mencapai tingkat penguasaan, dan jika dia menghabiskan waktu dan mampu memanfaatkannya secara sangkil dan mangkus. Oleh karena itu, untuk menerapkankan pembelajaran tuntas, guru harus menyediakan waktu yang cukup serta mendorong peserta didik untuk memanfaatkan waktu tersebut. Hanya dengan cara itu, kompetensi peserta didik akan berkembang secara optimal.

Tujuan pembelajaran tuntas adalah mempertinggi rata-rata prestasi peserta didik dalam belajar sesuai dengan tingkat kecerdasannya sehingga mereka memiliki kesdempatan yang sama dalam menguasai standar kompetensi atau kompetensi dasar.

(Gentile & Lalley: 2003), mengemukakan prinsip yang harus diperhatikan dalam implementasi pembelajaran tuntas sebagai berikut.

1. Kompetensi yang harus dicapai peserta didik dirumuskan dengan urutan yang hirarkis,

2. Evaluasi yang digunakan adalah penilaian acuan patokan, dan setiap kompetensi harus diberikan feedback,

3. Pemberian pembelajaran remedial serta bimbingan yang diperlukan,

4. Pemberian program pengayaan bagi peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar lebih awal.

Pembelajaran tuntas menggunakan prinsip ketuntasan secara individual. Oleh karena itu, pembelajaran harus tetap menganut pendekatan individual meskipun pembelajaran berlangsung secara klasikal. Dalam arti, bahwa setiap individu peserta didik harus mendapat perhatian, dorongan, dan perlakuan yang sama dalam proses pembelajaran. Akuilah bahwa setiap individu memiliki perbedaan. Dengan demikian, potensi setiap individu dapat dikembangkan secara optimal.

Risiko adanya pengakuan terhadap perbedaan dan pelayanan peerta didik, berdampak pada pemilihan strategi pembelajaran yang digunakan guru. Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress). Untuk itu, pendekatan sistem yang merupakan salah satu prinsip dasar dalam teknologi pembelajaran harus benar-benar dapat diimplementasikan. Salah satu caranya adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas, dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan (cremental units). Peserta didik belajar selangkah demi selangkah dan boleh mempelajari kompetensi dasar berikutnya setelah menguasai sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu. Dalam pola ini, seorang peserta didik yang mempelajari unit satuan pembelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pembelajaran berikutnya jika peserta didik yang bersangkutan telah menguasai sekurang-kurangnya 75% dari kompetensi dasar yang ditetapkan.

Untuk mengetahui perbedaan pendekatan pembelajaran tuntas dengan pembelajaran konvensional, berikut penulis sajikan tabelnya. Hal ini penulis lakukan agar setidaknya rekan-rekan guru bisa menganalisis dan mencoba mengimplementasikannya di lapangan.

Tabel 1: Perbandingan Kualitatif antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional

Langkah

Aspek Pembeda

Pembelajaran Tuntas

Pembelajaran Konvensional

A. Persiapan

1. Tingkat ketuntasan

Diukur dari performance peserta didik dalam setiap unit (satuan kompetensi atau kemampuan dasar). Setiap peserta didik harus mencapai nilai 75

Diukur dari performance peserta didik yang dilakukan secara acak

2. Satuan Acara Pembelajaran

Dibuat untuk satu minggu pembelajaran, dan dipakai sebagai pedoman guru serta diberikan kepada peserta didik

Dibuat untuk satu minggu pembelajar-an, dan hanya dipakai sebagai pedoman guru

3. Pandangan terhadap kemampuan peserta didik saat memasuki satuan pembelajaran tertentu

Kemampuan hampir sama, namun tetap ada variasi

Kemampuan peserta didik dianggap sama

B. Pelaksanaan pembelajaran

4. Bentuk pembelajaran dalam satu unit kompetensi atau kemampuan dasar

Dilaksanakan melalui pendekatan klasikal, kelompok dan individual

Dilaksanakan sepenuhnya melalui pendekatan klasikal

5. Cara pembelajaran dalam setiap standar kompetensi atau kompetensi dasar

Pembelajaran dilakukan melalui penjelasan guru (lecture), membaca secara mandiri dan terkontrol, berdiskusi, dan belajar secara individual

Dilakukan melalui mendengarkan (lecture), tanya jawab, dan membaca (tidak terkontrol)

6. Orientasi pembelajaran

Pada terminal performance peserta didik (kompetensi atau kemampuan dasar) secara individual

Pada bahan pembelajaran

7. Peranan guru

Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual

Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan seluruh peserta didik dalam kelas

8. Fokus kegiatan pembelajaran

Ditujukan kepada masing-masing peserta didik secara individual

Ditujukan kepada peserta didik dengan kemampuan menengah

9. Penentuan keputusan mengenai satuan pembelajaran

Ditentukan oleh peserta didik dengan bantuan guru

Ditentukan sepenuhnya oleh guru

C. Umpan Balik

10. Instrumen umpan balik

Menggunakan berbagai jenis serta bentuk tagihan secara berkelanjutan

Lebih mengandalkan pada penggunaan tes objektif untuk penggalan waktu tertentu

11. Cara membantu peserta didik

Menggunakan sistem tutor dalam diskusi kelompok (small-group learning activities) dan tutor yang dilakukan secara individual

Dilakukan oleh guru dalam bentuk tanya jawab secara klasikal

Sekecil apa pun tulisan ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat. Kepada rekan-rekan, mari kita coba mengimplementasikan pendekatan pembelajaran ini sedikit demi sedikit sehingga tujuan pendidikan nasional tercapai sesuai dengan harapan. Insya Alloh, pada tulisan lain penulis sajikan informasi lain yang berhubungan dengan pembelajaran tuntas.

Minggu, 2008 Agustus 10

RPP BAHASA INDONESIA

Rekan-rekan pengajar Bahasa Indonesia yang merasa kesulitan menyusun RPP, kiranya dengan membaca tulisan ini akan terbantu. Penulis sengaja menyajikan format, bukan teorinya supaya lebih mudah. Baik, silakan dicoba!

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

A. Identitas

Nama Sekolah : ...................................

Mata Pelajaran : ...................................

Kelas, Semester : ...................................

Standar Kompetensi : ...................................

Kompetensi Dasar : ...................................

Indikator : ...................................

Alokasi Waktu : ..... x ... menit (… pertemuan)

B. Tujuan Pembelajaran

C. Materi Pembelajaran

D. Metode Pembelajaran

E. Kegiatan Pembelajaran

Langkah-langkah :

Pertemuan 1

§ Kegiatan Awal

§ Kegiatan Inti

§ Kegiatan Penutup

Pertemuan 2

§ Kegiatan Awal

§ Kegiatan Inti

§ Kegiatan Penutup

Pertemuan 3. dst

F. Sumber Belajar

G. Penilaian

1. Kognitif

2. Psykomotor

3. Afektif

Mengetahui

Kepala Sekolah..................., Guru Mata Pelajaran,

.................................. ............................

NIP. NIP.

Selasa, 2008 Agustus 05

Pengajaran

GAYA BAHASA/MAJAS

UNTUK PELAJAR DAN UMUM

Dikumpulkan oleh Dedi Supriadi Idris

Pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan KTSP menganut pendekatan komunikatif. Artinya, pembelajaran bahasa Indonesia harus mampu membawa peserta didik menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang komunkatif dalam pergaulan sehari-hari. Komunikasi yang komunikatif mengandung arti bahwa komunikasi harus menumbuhkan saling pengertian dan pemahaman antara komunikan dan komunikator. Meskipun demikian, bukan berarti unsur kebahasaan tidak diajarkan melainkan disajikan secara terintegrasi ke dalam empat keterampilan berbahasa. Salah satu unsur kebahasaan yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam soal-soal, baik soal ujian nasional, SPMB, maupun ujian sekolah, adalah penggunaan gaya bahasa.

Gaya bahasa adalah ciri khas berbahasa seseorang. Karena itu gaya bahasa banyak ragamnya bergantung dari sudut mana kita memandang. Ada gaya bahasa berdasarkan konteks kalimat; ada gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat; ada gaya bahasa berdasarkan pemakainya, dan sebagainya. Berikut penulis sajikan sebagian kecil ragam gaya bahasa tersebut. Gaya bahasa ini penulis kumpulkan dari berbagai sumber berdasarkan pengalaman dan temuan, baik dalam pergaulan maupun dalam soal-soal. Gaya bahasa berikut hanyalah sebagian kecil tetapi sering ditemukan dalam kehidupan berbahasa.

1. Alegori, perbandingan secara menyuluruh terhadap sesuatu.

Contoh:

Kita harus hati-hati dalam mendayung bahtera hidup.

Dalam gaya ini dibandingkan secara menyeluruh kehidupan rumah tangga seseorang dengan bahtera.

Kapal itu menggergaji lautan selama dua hari dua malam sampai akhirnya tiba di tujuan dengan selamat. (berlayar tanpa henti)

2. Alusio, gaya bahasa dengan menggunakan ungkapan atau peribahasa yang sudah umum.

Contoh:

Kerjamu hanya menggantang asap, apa hasilnya?

Janganlah kalian bergaul dengan orang yang panjang tangan.

Ia datang ke rumahku dengan buah hatinya.

Aku kurang senang bergaul dengan dia karena dia tong kosong nyaring bunyinya.

3. Anapora, gaya pengulangan kata atau frase yang sama di awal larik puisi.

Contoh:

Kau bilang aku ini bajingan.

Kau bilang aku ini tak bermoral.

Kau bilang aku ini tak beretika.

4. Antiklimaks, gaya penegasan dengan menggunakan kata-kata yang makin lama makin menurun tingkatannya.

Contoh:

Jangankan seribu, seratus, serupiah pun aku tak punya.

Kubelai, kuusap, dan kusentuh rambutmu yang hitam.

Pejabat tinggi, menengah, sampai pejabat rendah, datang ke upacara itu.

5. Antitesis, gaya mempertentangkan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan dalam sebuah kalimat.

Contoh:

Tua muda, laki perempuan, hadir dalam pengajian itu.

Tinggi rendah derajat seseorang bergantung pada keimanannya.

6. Antonomasia, gaya membandingkan dengan cara menyebut sifat yang dimilikinya kepada seseorang.

Contoh:

Si cebol baru datang hari ini.

Si buta ternyata lebih pintar daripada si pincang.

7. Asindeton, gaya penegasan dengan cara memerinci sesuatu tanpa menggunakan kata penghubung.

Contoh:

Raket, sutelkok, sepatu dibelinya di toko itu.

Kakek, nenek, anak, cucu, cicit dibawanya dalam acara wisata itu.

8. Asosiasi/simile, gaya perbandingan dengan cara membandingkan sesuatu dengan benda lain yang memiliki kesamaan sifat.

Contoh:

Setelah sembuh dari sakitnya, wajah dia pucat bagai bulan kesiangan.

Petinju itu memiliki leher yang kuat bagai baja.

9. Enumerasio, gaya penegasan dengan cara melukiskan atau mendeskripsikan suatu keadaan untuk mempertegas maksud.

Contoh:

Malam itu begitu syahdu. Angin berhembus, laut tenang, bulan memancarkan sinarnya menemani keberduaan kami.

Pantai itu begitu indah. Ombaknya tenang, pantainya landai, pasirnya putih dan bersih.

10. Epipora, gaya penegasan dengan cara mengulang kata atau frase yang sama di akhir larik dalam puisi.

Contoh:

Kau marah, aku suka

Tertawa aku suka

Menangispun engkau aku suka.

Segala yang padamu membuat aku suka.

11. Eufimisme, gaya perbandingan dengan cara mengganti suatu maksud atau pengertian dengan kata/kelompok kata lain yang memiliki arti sama agar orang tidak tersinggung.

Contoh:

Karena penderitaannya, akhirnya orang itu hilang ingatan. (gila)

Anak bapak kurang mahir dalam matematika.(bodoh)

Dia bekerja sebagai pramuwisma.(pembantu)

12. Hiperbola, gaya penegasan dengan cara melukiskan suatu peristiwa/keadaan secara berlebihan.

Contoh:

Hatiku remuk, luluh lantak karena perbuatanmu.

Darahku bergolak, suaraku menggelegar saat kemarahanku sampai di puncak himalaya.

13. Interupsi, gaya penegasan dengan cara menyisipkan kata/keterangan pengganti yang disisipkan di tengah kalimat.

Contoh:

Kau, yang selama ini aku kasihi, ternyata seorang penghianat.

Kulalui juga hutan, yang menurut orang sangat berbahaya, untuk mencapai tujuanku.

14. Ironi, gaya sindiran dengan cara menyebutkan kebalikan dari maksud yang sebenarnya.

Contoh:

Halus benar kulitmu yang legam itu ini. (kasar, maksudnya)

Selamat pagi, anak pinter. (kepada yang datang terlambat)

15. Klimaks, gaya penegasan dengan cara menyatakan rincian yang makin lama makin tinggi tingkatannya.

Contoh:

Anak itu tumbuh, berkembang, dan dewasa dalam keprihatinan.

Jangankan sepeda, motor, mobil, bahkan kapal pesiar dimilikinya.

16. Kontradiksio interminis, gaya pertentangan dengan cara menjelaskan kembali sesuatu yang berlawanan di akhir kalimat.

Contoh:

Sebulan ini aku tidak pernah absen dalam pengajian kecuali tiga hari selama aku sakit.

Seorang pun tidak ada yang tahu rahasia ini, kecuali dirimu.

17. Koreksio, gaya penegasan dengan cara membetulkan kesalahan maksud yang disengaja.

Contoh:

Saat inilah yang tepat untuk kita saling memakan, maksud saya memaafkan.

Kita harus mampu memperjuangkan emansisapi, e, maaf, emansipasi.

18. Litotes, gaya perbandingan dengan cara menyatakan sesuatu keadaan dengan kebalikannya.

Contoh:

Sumbanganku ini tidak seberapa, hanya setetes air di padang pasir.

Aku ini orang yang tak punya, tiada berilmu, tiada berharta. Aku orang hina.

19. Metafora, gaya perbandingan dengan cara menggantikan sesuatu dengan benda atau sesuatu yang memiliki kesamaan sifat.

Contoh:

Sebagai tulang punggung bangsa, kita harus belajar disiplin. (generasi muda)

Dialah buaya darat yang disukai perempuan.

20. Metonomia, gaya perbandingan dengan cara menggantikan suatu barang/benda dengan menyebut merek atau nama barang itu/benda itu.

Contoh:

Aku lebih suka menghisap jisamsu daripada gudang garam.

Aku paling suka membaca rendra.

21. Okupasi, gaya pertentangan dengan cara membantah sesuatu tetapi disertai penjelasan.

Contoh:

Narkoba itu merusak kehidupan. Karena itu agama melarang. Tetapi para pecandu tidak bisa menghentikan kebiasaannya.

22. Parabel, gaya perbandingan dengan cara menggunakan perumpamaan dalam hidup.

Contoh:

Kisah cinta mereka tidak jauh berbeda dengan kisah Romeo and Juliet.

23. Paradoks, gaya bahasa pertentangan dengan cara menggunakan dua kata yang berlawanan.

Contoh:

Kini hidupku begitu sepi di Amerika yang ramai ini.

Hidupnya sengsara di tengah hartanya yang melimpah.

24. Paralelisme, gaya penegasan dalam puisi dengan mengulang kata/frase di awal atau di akhir larik. Contohnya anapora dan epipora.

25. Sineckdoche pars pro toto, gaya bahasa dengan cara menyebutkan sebagian untuk keseluruhan tanggapan. Sienckdoche totem pro parte, gaya bahasa dengan cara menyebutkan keselurhan untuk maksud sebagian tanggapan.

Contoh:

Di rumahku ada tiga mulut yang harus kukasih makan. (pars pro toto)

Indonesia berhasil menjadi juara dunia pencaksilat. (totem pro parte)

26. Personifikasi, gaya perbandingan dengan cara menerapkan sifat-sifat hdup manusia kepada benda.

Contoh:

Cahaya rembulan itu hinggap di daun kelapa, loncat ke genting rumahku, turun ke tanah, dan hinggap di jendela kamarku.

27. Pleonasme, gaya penegasan dengan cara menggunakan kata-kata yang tidak perlu karena sudah jelas maknanya.

Contoh:

Siapakah akan tampil ke depan saat ini?

Hatinya sutra yang halus dan salju yang putih.

28. Polisindeton, gaya penegasan dengan cara memerinci suatu keadaan/peristiwa dengan diawali kata penghubung.

Contoh:

Karena dia diam maka aku pun diam dan akibatnya kami saling membisu.

Ketika aku terluka dan mereka pun ikut terluka maka demikianlah kentalnya persahabatan kami.

29. Praterio, gaya penegasan dengan cara menyembunyikan maksud kalimat karena dianggap yang diajak bicara sudah mengerti.

Contoh:

Kedukaan keluarga korban Adam Air itu tidak perlu saya ceritakan lagi.

Kalian lulus ujian, orang tua kalian tentu ... kalian tahu, bukan?

30. Prifrase, gaya perbandingan dengan cara menggantikan sebuah kata dengan kata lain sebagai penjelasan.

Contoh:

Gempa itu terjadi saat penduduk tertidur pulas di malam hari. (tengah malam)

Saya tiba di rumah saat matahari baru muncul di ufuk timur. (dini hari)

31. Repetisi, gaya penegasan dengan cara mengulang sebuah kata dalam sebuah kalimat atau konteks.

Contoh:

Cinta, cinta, cinta, tenyata kita tidak bisa hidup hanya dengan cinta.

Kita harus sepakat, kita harus bersatu, kita harus berjuang, kita harus melawan ketidakadilan ini.

32. Retoris, gaya penegasan dengan menggunakan pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena sudah diketahui.

Contoh:

Apakah Tuhanmu menyuruh kamu berbuat jahat?

Apakah kalian mau ujian kalian tidak lulus?

33. Sarkasme, gaya sindiran dengan cara menggunakan kata-kata yang paling kasar.

Contoh:

Aku benci melihat wajahnya angkuh seperti traktor.

Sapi, kau. Pergilah dari sisiku. Aku muak melihatmu.

34. Simetri, gaya penegasan dengan cara mengulang sebuah kalimat dengan kalimat lain yang maksudnya sama.

Contoh:

Mereka diajari. Mereka dididik. Mereka dintuntun dan mereka dibimbing di lingkungan pesantren.

35. Sinisme, gaya sindiran dengan menggunakan kata-kata kebalikannya.

Contoh:

Ayolah, maju, Kau.

Aku ingin muntah melihat kelakuanmu.

36. Tautologi, gaya penegasan dengan cara mengulang satu kata dalam satu kalimat secara beruntun.

Contoh:

Kuminta kau segera datang, segera temui aku, dan segera sadar atas kesalahanmu.

Saat itu kurasakan halus kulitmu, halus rambutmu, halus belaimu, dan halus pelukmu sehingga aku tidak berdaya di hadapanmu.

37. Tropen, gaya perbandingan dengan cara menyebutkan seuatu dengan kata lain yang maknanya sejalan/ungkapan.

Contoh:

Orang tiu sudah tidak terdengar lagi karena ia mengubur diri.

Pekerjaannya menjual suara dari kafe ke kafe, tiap malam.

Kepustakaan

Imanuddin, 1985. Pengantar Ilmu Semantik. Bandung: Pustaka Prima.

Keraf, Gprys. 1985. Diksi dan Gaya Bahasa. Bandung: Pustaka Prima.

Sudaryat, Endang. 1983. Ringkasan Bahasa Indonesia. Bandung: Ganeca Exact.